5 Kondisi hati penentu kesembuhan


Saat kondisi sakit, kebanyakan orang dalam di bawah alam sadarnya merujuk untuk pergi ke dokter atau meminum obat agar meredakan atau menyembuhkan rasa sakitnya. Perlu juga dipahami bahwa ketika seseorang jatuh sakit, sebenarnya bukan persoalan fisik belaka yang menjadi masalah. Masalah fikiran, emosi, dan tingkat spiritual seseorang sangat menentukan seseorang menjadi sakit atau sembuh dengan bi idznillah.

Bagi seorang muslim sudah seharusnya memiliki keyakinan penuh sebagaimana  disebutkan di dalam kitab suci Al-Quran: “Dan apabila aku sakit, maka Dialah (Allah Swt.) yang menyembuhkan penyakitku” (Q.S. Asy-Syu’ara’: 80)   

Maka bagi seseorang ketika sakit, baik secara fisik maupun emosi, sebelum kemudian memutuskan datang ke dokter, penerapi, minum obat, atau minum herbal perlu dilakukan terlebih dahulu sebagai pra-kondisi kejiwaan agar tetap tenang dalam menghadapi rasa sakit atau segala sesuatu baik emosi masa lalu, sekarang, maupun yang akan datang. Pra kondisi tersebut meliputi “5 Kondisi Hati” yang harus dipersiapkan yaitu:

  • Yakin
  • Khusyu’
  • Ikhlas
  • Pasrah
  • Syukur
Khazanah herbal – Banyuwangi

Pertama Yakin dapat diartikan percaya kepada sesuatu, iman keteguhan hati kepada Allah SWT. Yakin juga bisa diartikan keteguhan hati terhadap sesuatu sehinga tidak berpaling lagi selain itu. Sedangkan menurut istilah yakin adalah percaya terhadap sesuatu yang dianggap sebagai tumpuan dalam sesuatu hal, sehingga dalam melaksanakannya akan menjadi dorongan bagi orang yang meyakininya. Yakin dalam Islam disebut Iman, yang artinya percaya, ada enam pokok keyakinan yang wajib diimani, yakni percaya kepada adanya Allah SWT, percaya kepada malaikat, percaya pada kitab-kitab Allah SWT, percaya pada para Nabi/Rasul, percaya kepada adanya hari pembalasan , percaya pada qadha dan qadar. 

Iman intinya menanamkan kepercaaan sedalam-dalamnya sehingga tidak akan pernah goyah, kemudian meyakini bahwa segala yang akan terjadi pada diri kita mesti terjadi, maka kita tidak patut untuk takut kepada sesuatu selain Allah SWT dan wajib kita mengerjakan perintah-perintah-Nya dengan berserah diri kepadaNya. Dalam meraih sukses, keyakinan sangat penting sehingga dalam mengerjakan sesuatu akan mempengaruhi dan memberikan motivasi pada diri sendiri dalam mengerjakan sesuatu. Tanpa suatu keyakinan, apapun yang dilakukan tidak dapat mencapai apapun yang kita inginkan. 

Dalam terapi penyembuhan herba yang terpenting adalah keyakinan kepada kekuasaan Tuhan, bahwa jika Allah turun tangan tidak ada yang tidak mungkin, tapi jika Tuhan tidak berkehendak tidak ada yang bisa kita capai. Maha kasihnya Allah SWT., bahwa apapun kondisi kita saat ini, sembuh atau belum, itulah yang terbaik buat kita saat ini menurut Allah. 

Kedua Khusyu’. Dari segi bahasa, kata “khusyu’” (dalam bahasa Arab) mengandung makna : membungkuk, menyelam, atau menunduk. Khusyu’ memiliki kedekatan makna dengan kata ‘khudhu’ maknanya lebih ke “tunduknya anggota badan”, sedangkan khusyu’ bisa berarti tunduknya anggota badan, suara, dan pandangan mata, sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an (surah al-Qolam: 43) “khoosyi’atan abshooruhum….”. Kata khusyu’ juga digunakan untuk menggambarkan bumi yang tandus dan tak kunjung diguyur oleh hujan. Khusyu’ terkadang dimaknai sebagai amalan hati, contohnya rasa takut pada Allah. Namun terkadang juga sebagai bagian dari amalan lahiriyah semisal tenang dan diamnya anggota badan. Singkatnya, khusyu’ adalah amalan hati berupa rasa takut, hina dan tawadhu’, yang diiringi rasa cinta dan pengagungan terhadap Rabb yang tampak pengaruhnya secara lahiriyah dalam wujud tenang dan diamnya anggota badan. Khusyu’ dalam sholat diwajibkan sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Baqarah : 45 “jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’”.
Dalam proses penyembuhan, khususnya pada tahap set-up, dan tune in, kita perlu konsentrasi penuh (khusyu’). Pusatkan pikiran dan perasaan untuk menyampaikan masalah kita kepada Tuhan. Selama proses tapping, tetaplah berkonsentrasi pada rasa sakit atau kondisi emosi yang ingin kita hilangkan. Proses penyembuhan seringkali tidak berhasil karena pada saat tengah dilakukan tapping, klien berubah focus pada sakit atau masalah yang lain. Dengan menjaga konsentrasi dan kekhusyu’an hati kita, menurut penelitian-penelitian ilmiah di bidang mind-body connection: 

– Tubuh kita jadi lebih mudah menyembuhkan dirinya sendiri 
– Rasa sakit dan penderitaan batin kita jauh berkurang 
– Tuhan akan lebih mudah turun tangan. 

Ketiga Ikhlas. Ikhlas adalah ketrampilan yang dimiliki hati untuk berserah diri , baik harapan, keinginan, maupun kekhawatiran hanya kepada Tuhan. Ikhlas seringkali ditujukan untuk oang-orang dalam kondisi tertentu, misalnya orang yang tengah ditimpa musibah, miskin, terpojok atau bahkan menjelang ajal. Pada sebenarnya tidak. Ikhlas bukan berarti kita harus melepaskan semua keinginan dalam hidup. Kita tetap mengejar mimpi-mimpi kita, namun jika kita menjalaninya dengan ikhlas, maka di dalam hati akan timbul rasa syukur, sabar, focus dan tenang selama kita menuju proses yang diinginkan. Di dalam keikhlasan kita akan sepenuhnya menyerahkan semua “keputusan akhir” hanya kepada Tuhan, setelah beragam upaya kita lakukan. Ikhlas tidak sama dengan pasrah. Bila konotasi pasrah cenderung menyerahkan semua persoalan pada takdir tanpa melakukan beragam upaya, maka ikhlas adalah sebuah kondisi dimana manusia sudah melakukan berbagai upaya, namun mengembalikan semua hasilnya pada Tuhan sebagai penentu takdir kita. 

Dalam proses penyembuhan, pain paradox atau paradox rasa sakit, adalah suatu kondisi dimana semakin kita berontak dan tidak menerima kenyataan, maka penyakit itu semakin sulit untuk sembuh, dan semakin berat penderitaan batin kita. Kita perlu ikhlas dan ridho menerima penyakit kita, justru supaya kita tidak semakin menderita secara batin, dan akhirnya membuat masalah kita lebih mudah teratasi. M. Scott Peck, seorang psikiater yang berpengalaman menangani ratusan pasien gangguan jiwa, dalam bukunya, The Road Less Traveled, mengatakan, asal orang-orang yang sakit (fisik maupun emosi) ini mau menerima masalahnya, maka penderitaan mereka akan sangat berkurang dan bahkan akhirnya bisa lebih mudah sembuh dari penyakit dan masalahnya.

toko herbal banyuwangi
Jl. Adi Sucipto No 90 Banyuwangi / Jl. Hasanudin No 46 Genteng


Keempat Pasrah. Pasrah dalam bahasa agama Islam adalah “Tawakkal”. Dari segi bahasa , tawakkal memiliki arti: menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan.Seseorang yang bertawakkal adalah seorang yang menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan segala urusannya hanya kepada Allah SWT. Sedangkan dari segi istilahnya, tawakkal didefinisikan oleh beberapa ulama salaf , yang sesungguhnya memiliki muara yang sama. Menurut Imam Ahmad bin Hambal, tawakkal merupakan aktivitas hati, artinya tawakkal itu merupakan perbuatan yang dilakukan oleh hati, bukan sesuatu yang diucapkan oleh lisan, bukan pula sesuatu yang dilakukan oleh anggota tubuh. Dan tawakkal juga bukan merupakan sebuah keilmuan dan pengetahuan (Al-Jauzi/Tahdzib Madarijis Salikin, tt.337). Sedangkan menurut Ibnu Qayim al-Jauzi: Tawakal merupakan amalan dan ubudiyah ( Penghambaan) hati dengan menyandarkan segala sesuatu hanya kepada Allah, berlindung hanya kepadaNya dan ridha atas sesuatu yang menimpa dirinya, berdasarkan keyakinan bahwa Allah akan memberikannya segala “kecukupan” bagi dirinya……, dengan tetap melaksanakan usaha keras untuk dapat memperolehnya (Al-Jauzi/Arruh fi Kalam ala Arwahil Amwat wal Ahya’ bidalail minal kitab was Sunnah, 1975: 254). 

Dalam proses penyembuhan, pasha adalah menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT apapun yang akan terjadi nanti. Hal ini bukan berarti fatalism, karena bukan berarti kita tidak berusaha. Kita berusaha seoptimal mungkin mencari solusi, sembari menggantungkan hati kita hanya kepada Tuhan. Bagi orang yang pasrah, maka Allah sendiri yang akan turun tangan mengambil alih masalahnya. Lester Levinson, mengembangkan teknik Sedona Method yang berhasil membantu raturan ribu orang, hanya dengan satu teknik kunci, “just let it go… Sudah, pasrahkan…” 

Kelima Syukur. Syukur adalah pujian karena adanya kebaikan yang diperoleh. Memahami nikmat-nikmat yang dirasakan dan menampakkannya ke permukaan. Lawan dari syukur adalah kufur yang berarti menyembunyikan. Bersyukur adalah saat diberi kesehatan jasmaniah dan rohaniah dan menggunakan kesehatan untuk mengabdi di jalan Allah SWT. Bersyukur adalah melihat ke bawah saat berada dalam kepayahan, memahami bahwa masih banyak yang jauh lebih tidak beruntung, meyakini bahwa begitu banyak rahmat dan karunia yang Allah SWT berikan: iman, udara yang sehat, makanan yang halal, keluarga yang lengkap, lingkungan yang menginspirasi. Bersyukur adalah menerima segala kelebihan dan kekurangan, menjalani proses hidup dengan sederhana apa adanya, tanpa keserakahan, tanpa kemunafikan. Bersyukur adalah sebuah proses umpan balik, seberapa banyak nikmat diperoleh, seberapa sering kegagalan menimpa, seberapa dekat kita kepada Allah SWT, seberapa sering ketenangan hati didapat, seberapa sering kesedihan dan kegembiraan datang, semua dapat dikaitkan dengan seberapa banyak rasa syukur. Sungguh orang yang paling beruntung adalah orang yang pandai bersyukur dan ssebaik-baik ahli syukur adalah yang mengembalikan pujian dan nikmat kepada Allah SWT. “Fabiayyi aalai Rabbikumaa Tukadziban – maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan (Ar-Rahman). Dalam SEFTing bersyukur tidaklah mudah disaat masih sakit atau masalah belum selesai. Namun kita perlu mendisiplinkan diri kita untuk selalu bersyukur, meski dalam kondisi seberat apapun (the discipline of gratitude). Cari, temukan dan syukuri apapun hal lain dalam hidup kita yang masih baik dan sehat. Seringkali, ketika seseorang terus mensyukuri apa yang masih sehat dan baik, maka masalah dan sakitnya berangsur membaik dan bahkan hilang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *